Supervisi Akademik Makin Efektif dengan Kegiatan Pendampingan

P1010261Berdasarkan fakta di lapangan, tidak bisa dipungkiri jika sampai saat ini, masih dapat kita jumpai adanya guru yang menunjukkan sikap antipati terhadap kegiatan supervisi akademik, baik yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru senior, maupun yang dilakukan oleh pengawas pendidikan. Berbagai argument diungkapkan sebagai alasan mengapa para guru tersebut merasa kenyamanannya sedikit terganggu ketika berhadapan dengan aktifitas yang biasa juga disebut sebagai kegiatan menilik atau mengawasi ini. Salah satunya adalah anggapan bahwa kegiatan supervisi merupakan kegiatan yang semata-mata hanya mencari titik lemah atau keburukan seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya di dalam kelas. Kelas tak ubahnya berwujud sebagai ruang ujian yang menegangkan bagi sebagian guru ketika sedang disupervisi. Supervisor mencatat satu persatu kekurangan-kekurangan yang diamati untuk dijadikan sebagai ukuran justifikasi dalam menggolongkan guru tersebut ke dalam kualifikasi guru profesional, guru cukup profesional ataukah guru tidak profesional. Wajarlah jika muncul berbagai ekspresi berlebihan yang dilakukan oleh guru menyikapi kegiatan supervisi ini, diantaranya adanya guru yang melakukan aktivitas persiapan yang berlebihan berbeda dari hari biasanya dalam mempersiapkan sebuah desain pembelajaran ketika hendak disupervisi. Parahnya lagi, sebagian lainnya secara sengaja mencari-cari alasan untuk tidak masuk mengajar hanya sekedar untuk menghindari kegiatan supervisi tersebut. Pemandangan seperti ini tentulah merupakan indikator yang kurang baik jika dikaitkan dengan tujuan utama supervisi yaitu membantu guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran yang dicanangkan bagi murid-muridnya .

Terkait dengan fenomena di atas, muncul beberapa pertanyaan, yaitu “benarkah kegiatan supervisi yang dilakukan selama ini adalah kegiatan yang lebih mengutamakan unsur mengorek atau mengungkap kelemahan guru ketimbang menggali kekuatan-kekuatan sebagai tema diskusi di antara keduanya. bukankah hal tersebut lebih berpotensi untuk pengembangan keprofesionalan berkelanjutan bagi para guru yang disupervisi?  atau “jangan-jangan” sikap alergi guru terhadap kegiatan supervisi akademik seperti yang digambarkan di atas, justru merupakan respon pembelaan guru ketika mereka harus disupervisi dalam kondisi penuh ketidaksiapan dan ketidak profesionalan kinerja mereka selama ini?.Nah,  Bagaimana pula model supervisi akademik yang lebih menguatkan?

Pengertian supervisi secara etimologis menurut Ametembun (1993), terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya meliputi melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi. “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan Inggris Supervision artinya pengawasan.

Untuk melakukan supervisi diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal fisik maupun lingkungan nonfisik. Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan dan ditindaklanjuti dengan pemberian feed back.

Ada tiga konsep pokok (kunci) dalam pengertian supervisi akademik.

  1. Supervisi akademik harus secara langsung mempengaruhi dan mengembangkan perilaku guru dalam mengelola proses pembelajaran. Inilah karakteristik esensial supervisi akademik. Sehubungan dengan ini, janganlah diasumsikan secara sempit, bahwa hanya ada satu cara terbaik yang bisa diaplikasikan dalam semua kegiatan pengembangan perilaku guru.
  2. Perilaku supervisor dalam membantu guru mengembangkan kemampuannya harus didesain secara ofisial, sehingga jelas waktu mulai dan berakhirnya program pengembangan tersebut. Desain tersebut terwujud dalam bentuk program supervisi akademik yang mengarah pada tujuan tertentu. Oleh karena supervisi akademik merupakan tanggung jawab bersama antara supervisor dan guru, maka alangkah baik jika programnya didesain bersama oleh supervisor dan guru.
  3. Tujuan akhir supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya.

Secara rinci, tujuan supervisi akademik adalah sebagai berikut ini. Membantu guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran yang dicanangkan bagi murid-muridnya. Melalui supervisi akademik diharapkan kualitas akademik yang dilakukan oleh guru semakin meningkat. Pengembangan kemampuan dalam konteks ini janganlah ditafsirkan secara sempit, semata-mata ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen (commitment) atau kemauan (willingness) atau motivasi (motivation) guru, sebab dengan meningkatkan kemampuan dan motivasi kerja guru, kualitas pembelajaran akan meningkat.

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dan direalisasikan oleh supervisor dalam melaksanakan supervisi akademik, yaitu sebagai berikut; 1) Supervisi akademik harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis; 2) Supervisi akademik harus dilakukan secara berkesinambungan; 3) Supervisi akademik harus demokratis; 4) Program supervisi akademik harus integral dengan program pendidikan; 5) Supervisi akademik harus komprehensif; 6) Supervisi akademik harus konstruktif; 7)Supervisi akademik harus obyektif.

Supervisi Akademik yang Melibatkan Kegiatan Pendampingan

Selain pengawasan, pengembangan profesionalisme guru perlu melibatkan metode pendampingan, meskipun kadang-kadang perbedaan peran keduanya tidak dipahami secara jelas. Sebagian besar guru sudah terbiasa dengan pengawas yang datang ke kelas mereka untuk membuat laporan tentang cara mengajar mereka, tetapi seberapa banyak yang tahu tentang mereka yang datang ke kelas sebagai pendamping (Mentor)?

Apa Itu Pendampingan (‘Mentoring’)?

“Pendampingan dimaksudkan untuk mendukung dan mendorong seseorang untuk mengelola belajarnya agar ia dapat mengembangkan potensinya secara maksimal, mengembangkan keterampilan, meningkatkan kualitas kinerja, dan menjadi orang seperti yang ia inginkan. (Eric Parsloe, The Oxford School of Coaching & Mentoring)

Pendampingan merupakan alat pemberdayaan dan pengembangan personal yang ampuh; merupakan cara yang efektif dalam menolong seseorang mengembangkan karirnya; merupakan kerjasama antara dua orang (pendamping dan terdamping) yang biasanya bekerja di bidang yang sama atau berbagi pengalaman yang mirip; merupakan hubungan kerja yang bermanfaat didasarkan pada sikap saling percaya dan menghormati.

Pendamping adalah seseorang yang membantu si terdamping menemukan arah yang benar dan yang membantu mereka mencari pemecahan masalah-masalah karirnya. Pendamping bersandar pada kepemilikan pengalaman yang sama untuk mendapatkan empati dari si terdamping dan pemahaman tentang masalah mereka. Pendampingan menyediakan peluang bagi si terdamping untuk memikirkan pilihan-pilihan dan perkembangan karirnya. Seorang pendamping seharusnya membantu si terdamping untuk percaya diri dan mendorong secara lebih kuat rasa percaya dirinya. Seorang pendamping harus mengajukan pertanyaan dan memberi tantangan kepada si terdamping di samping memberikan arahan dan dorongan. Pendampingan memungkinkan si terdamping untuk mengeksplorasi gagasan baru dengan penuh percaya diri; merupakan kesempatan untuk melihat secara lebih dekat pada diri sendiri, masalah sendiri, peluang, dan hal-hal yang diinginkan dalam hidup. Pendampingan lebih tentang ‘menjadi lebih sadar diri’, bertanggung jawab terhadap hidup, dan mengarahkan hidup ke arah yang Anda tentukan sendiri, daripada berserah diri pada nasib/kesempatan.

Perbedaan pokok antara pendampingan dan pengawasan dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Pengawas mengelola kinerja guru dan bertanggung jawab mengkaji kinerja tersebut untuk tujuan sertifikasi/promosi jabatan; sedangkan Pendamping adalah orang yang membantu dan memfasilitasi belajar, berbagi sumber, memecahkan masalah, umpan balik dan refleksi yang terpisah dari evaluasi;
  2.  Pengawas memiliki posisi kewenangan dan kekuasaan legal atas orang yang diawasi; sedangkan Pendamping memberi petunjuk, saran, membelajarkan, memberi tantangan, melatih dengan menggunakan pengalaman, keahliannya, dan peduli untuk meningkatkan kualitas tindakan dan perkembangan guru dari waktu ke waktu;
  3. Pengawas lebih menekankan pada pemenuhan terhadap peraturan, tuntutan, dan target yang seringkali jangka pendek dan fokus pada hasil;  Sedangkan pendamping biasanya memiliki strategi jangka panjang dan fokus pada pengembangan diri terdamping.

Fokus utama seorang pendamping adalah membantu terdamping dalam mengembangkan keterampilan profesional dalam suasana yang mendukung dan tidak menegangkan. Bentuk pendampingan yang terbaik terjadi sepanjang kurun waktu di mana kepercayaan, kerjasama, dan berbagi dibangun serta pertemuan rutin antara pendamping dan terdamping dijadwalkan.

Bagi pengawas sangatlah penting memahami proses pendampingan walaupun mereka memiliki peran administratif dan kekuasaan di sekolah. Mereka seyogyanya mendukung proses pendampingan dan memahami strategi dan bantuan apa yang dapat menolong guru berkembang secara profesional.

 

Apa yang dikerjakan oleh seorang pendamping yang baik?

  1. Seorang pendamping yang baik memiliki komitmen sebagai pendamping. Mereka menyadari bahwa untuk mengembangkan hubungan dan perubahan membutuhkan waktu yang panjang. Pendamping yang baik menentukan secara jelas dan rinci peran dan tanggung jawab mereka. Mereka mengunjungi terdamping secara teratur dan membuat catatan pertemuan. Catatan tersebut bukan untuk disampaikan kepada pengawas, tetapi untuk melihat perkembangan dan keberhasilan.
  2. Seorang pendamping yang baik memiliki sikap gender sensitive dan inklusif serta menerima guru yang didampingi tanpa membuat penilaian dan menerima terdamping sebagai profesional yang sedang berkembang.
  3. Seorang pendamping yang baik terlatih dalam memberikan bantuan pembelajaran. Pendamping yang baik membimbing terdamping sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Mereka menggunakan berbagai pendekatan termasuk kesempatan mengamati orang lain. Mereka mengembangkan kemampuannya dalam memberikan umpan balik dan refleksi yang efektif.
  4. Seorang pendamping yang baik merupakan model pembelajar seumur hidup. Pendamping yang baik memperlihatkan keterbukaan mereka untuk belajar dari rekan dan mengakui bahwa mereka sedang belajar juga. Mereka bukan ahli dalam segala hal. Mereka memodelkan perilaku yang reflektif dan cara bagaimana memperoleh serta mengembangkan pengetahuan/ pemahaman mereka.
  5. Seorang pendamping yang baik menyampaikan harapan dan optimisme. Pendamping yang baik membuat si terdamping yakin bahwa pencapaian hasil yang baik sangatlah mungkin. Mereka mencari tanda-tanda perkembangan/perbaikan dan merayakannya. Pendamping yang baik memahami kekecewaan dan kesulitan yang dihadapi terdamping serta menjelaskan bagaimana mengatasinya.

 

Mengapa Pendampingan?

  1. Meningkatkan kinerja guru dengan semangat saling belajar dan membelajarkan antara pendamping dan yang didampingi;
  2. Meningkatkan kinerja guru empat kali lebih cepat dibandingkan dengan hanya memberi pelatihan;
  3. Memberi solusi dengan lebih fokus terhadap keterbatasan yang dimiliki;
  4. Membentuk pribadi yang reflektif.

Peran Pendamping

  1. Memecahkan masalah. Pendamping sebagai pencari solusi, bukan bagian dari masalah.
  2. Meningkatkan kinerja. Pendamping sebagai pemberi umpan balik.
  3. Mengembangkan orang lain. Pendamping sebagai guru dan pengarah.

5 Langkah Pendampingan Efektif

  1. Pendamping Memberi Penghargaan Misal: “Saya suka dengan kegiatan praktis yang anda lakukan. Siswa benar-benar terlibat dalam kegiatan”.
  2. Terdamping Melakukan Sendiri Refleksi Kritis Misal: “Menurut Saudara, bagian mana dari pembelajaran tadi yang paling penting? Mengapa demikian?”
  3. Terdamping Merencanakan Sendiri Perbaikan-perbaikan Misal: “Kalau Saudara melaksanakan lagi pembelajaran tersebut, apa saja yang akan Saudara ubah? Mengapa? Menurut Saudara apa yang akan meningkatkan hasil belajar siswa? Apa yang akan meningkatkan kualitas pengelolaan siswa?”
  4. Pendamping Memberikan Usul, Saran, atau Mendiskusikan Hal-hal yang dapat Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Misal: ”Ada beberapa siswa di bangku belakang yang kurang terlibat dalam kegiatan. Bagaimana caranya agar lain kali mereka terlibat penuh?”
  5. Mengembangkan Rencana Tindak Lanjut Misal: ”Apa yang perlu Saudara lakukan selanjutnya?”

Melalui kegiatan pendapingan sebagai bagian dari kegiatan supervisi akademis, dinilai dapat lebih berpotensi mengembangkan keprofesionalan guru terutama dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Selain itu melalui pendapingan akan terwujud keharmonisan yang lebih kuat antara guru sebagai subjek yang disuvervisi dengan para supervisor, dengan kata lain tujuan supervisi akan lebih mudah tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s