Membangun Budaya Baca di Sekolah

1781272_10200514660427960_1868482529_oBioners. 03 Maret 2014. Disadari bahwa Mengembangkan budaya baca di sekolah akan berkorelasi erat dengan peningkatan kompetensi warga sekolah, baik bagi diri kepala sekolah dan guru dalam pengembangan profesionalismenya maupun pada diri peserta didik terhadap peningkatan prestasinya. Implementasinya terlihat begitu mudah, tapi butuh komitmen kuat bagi setiap warga sekolah khususnya kepala sekolah dan seluruh guru untuk berupaya membiasakannya, sebab bisa dijamin kalau usaha mengembangkan “Budaya” ini tidak bakal menjadi kenyataan kalau hanya “minoritas” warga sekolah yang melakukannya, melainkan harus mendapatkan sisi “Mayoritas”. Tentulah peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai manajer dan promotor di sekolah berperan penting dalam hal ini.

Membangun budaya baca dapat dimulai dengan terlebih dahulu menumbuhkan kegemaran membaca pada diri sendiri, diri kepala sekolah, diri guru, dan diri siswa. Mungkin bagi beberapa orang ketika budaya ini mulai dikembangkan sifatnya agak sedikit memaksa,  namun ketika telah rutin dilakukan maka berikutnya akan tumbuh kebiasaan dari sifat keterpaksaan tersebut, dengan kata lain sifat keterpaksaan tersebut lambat laun akan hilang asalkan rutin dan terus berkomitmen untuk melanjutkannya. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mewajibkan guru membuat karya tulis, guru menyiapkan modul atau bahan bacaan bagi siswa dalam pembelajaran, sesekali memberi penugasan membaca kepada siswa dalam setiap aktifitas PBM yang dilakukan oleh guru, dapat juga melalui penentuan jadwal rutin membaca minimal 2 jam pembelajaran di setiap minggu misalnya jam Pembiasaan membaca, ada pula yang menerapkannya melalui kegiatan membaca di awal pelajaran selama 5-15 menit, mengarahkan siswa yang tidak belajar masuk ke perpustakaan untuk membaca, atau memberi tugas membaca di rumah dengan menggunakan buku kontrol orang tua (buku penghubung).

Menumbuhkan budaya ini tentunya membutuhkan dukungan fasilitas dan sumber daya, sehingga usaha ini tidak sebatas kuat dalam animo namun kuat pula dalam kemudahan implementasinya, dukungan perpustakaan yang nyaman dan lengkap serta pustakawan yang kompeten, tersedianya sudut-sudut baca dalam kelas, sumber baca di luar ruangan (mis: mading dan taman baca di halaman sekolah), atau kemudahan akses internet di sekolah.. saya kira beberapa hal yang tidak sulit diadakan, kuncinya adalah Visi misi yang kuat pada diri sekolah yang akan memulainya sekaligus komitmen, kesadaran dan keseriusan melaksanakannya. Banyak pihak yang kadang terkendala dengan ketidaktersediaan perpustakaan di sekolah, namun mudah-mudahan ini tidak menjadi alasan utama untuk tidak memulainya, sebab kegiatan membaca dapat dimulai di mana saja dan dengan model apapun asalkan tersedia “objek” yang akan di baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s