APA YANG SALAH DENGAN PATUNG NENE’ MALLOMO DI PANTAI LOSARI?

Nene-Mallomo-296x328Bioners, 07/01/2015-. Pantai Losari tentu sudah tidak asing lagi, terutama bagi warga yang berdomisili di propinsi Sulawesi Selatan dan kota Makassar pada khususnya. Pantai yang berlokasi di sebelah barat kota Makassar ini sudah menjadi ikon bagi Makassar dan merupakan salah satu tempat wisata di Makassar yang paling populer. Selain berfungsi sebagai tempat refreshing bagi setiap yang berkunjung kesana, pantai losari juga dapat dijadikan sebagai wadah menambah wawasan dan pengetahuan tentang sosok pejuang-pejuang yang berasal dari wilayah Sulawesi Selatan. Hal ini dimungkinkan karena beberapa titik di sepanjang anjungan pantai losari dibangun patung-patung pahlawan lokal yang berasal dari berbagai daerah di wilayah Sulawesi Selatan, sekaligus tambahan informasi mengenai tokoh tersebut yang dituliskan pada dudukan-dudukan patung tersebut.
Kabarnya terdapat sekitar 20 patung pahlawan yang dibangun di pantai losari, diantaranya patung Sultan Hasanuddin, Arung Palakka, Andi Sultan Daeng Raja, Andi Lasinrang, L.S. Madukelleng, Ranggong Daeng Romo, Jenderal M. Yusuf, Andi Pangeran Pettarani, Karaeng Patingaloang, Mayor Jenderal A. Mattalata, Pongtiku, Andi Djemma, dan tidak terkecuali pejuang dari Sidrap yaitu Nene Mallomo.
Namun, tahukah anda bahwa khusus patung Nene Mallomo terdapat sebuah kekeliruan besar. Nene’ Mallomo yang merupakan tokoh cendekiawan dari Sidrap sedianya merupakan laki-laki. Namun di Anjungan Pantai Losari justru ditampilkan sebagai seorang perempuan. Akibatnya, publik yang menyadari kekeliruan ini menilai bahwa pembangunan patung pejuang yang mestinya membawa manfaat ini, bisa-bisa justru memberi informasi yang menyesatkan dengan adanya kekeliruan tersebut. Hal ini juga menguatkan opini jika patung-patung tersebut dibuat tanpa penelitian terlebih dahulu. Beberapa kemungkinan perkiraan penyebab kekeliruan ini diantaranya adalah tertuju pada kata “Nene” yang disematkan di awal penyebutan nama pejuang dari Sidrap ini. Kata “Nene” yang bagi beberapa orang memang kadang diartikan sebagai perempuan yang berumur tua atau dalam Ejaan Indonesia umumnya disebut dengan kata “Nenek”, sedangkan untuk laki laki tua disebut “Kakek”. Padahal pada dasarnya arti kata “Nene'” bagi masyarakat Bugis Makassar merupakan penyebutan umum bagi orang-orang yang sudah berumur tua baik laki-laki maupun perempuan.
Nene’ Mallomo yang hidup di Kerajaan Sidenreng pada abad ke-16 pada masa pemerintahan La Patiroi, Addatuang Sidenreng, memiliki nama La Pagala. Kadang pula dipanggil dengan nama La Makkarau. Beberapa sumber informasi menyebut ia hidup pada masa Raja La Pateddungi.
Nene’ Mallomo terkenal sebagai cerdik pandai karena sering jadi tempat rujukan untuk suatu masalah bahkan dari para cerdik pandai kerajaan tetangga. Ucapannya yang terkenal antara lain Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata Seuwae (hanya kerja keras yang pantang menyerah yang bisa mendatangkan berkah dari Tuhan). Adapula kalimatnya yakni Naia Adek Temmakkeana Temmakkeappo (hukum tidak mengenal anak dan cucu). Sebelumnya mahasiswa asal Kabupaten Sidrap memprotes keberadaan patung Nene’ Mallomo yang ada di pelataran masjid terapung, Kota Makassar. Mereka menilai patung tersebut salah alamat. Sampai berita ini diturunkan, belung ada kabar tentang upaya perbaikan atau pelurusan pada kekeliruan ini. Bagaimana tanggapan anda tentang kejadian ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s